Buletin AL-Furqon

Ma'had Al-furqon al-Islami

Menu

Adab Duduk-Duduk Dipinggir Jalan

October 16, 2016 | Nasehat

jalanDampak duduk-duduk di pinggir jalan

Di antara aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan dan budaya bagi sebagian kalangan adalah duduk-duduk atau nongkrong di pinggir jalan. Bagi sebagian orang, duduk-duduk di pinggir jalan memang termasuk suatu hal yang mengasyikkan, bisa jadi seseorang menghabiskan waktunya berjam-jam di tempat itu, atau bahkan tanpa ia sadari ia berbincang-bincang sampai larut malam, apalagi bila ia adalah termasuk orang yang hobi menikmati pemandangan-pemandangan yang ada di pinggir jalan dan mengomentari atau bahkan menggibah setiap orang yang lewat, tentu ini membuat mereka semakin enjoy dan betah duduk di tempat tersebut.

Tentunya kita tidak memandang permasalahan dari satu sisi saja, dan tidak memperhatikan kemaslahatan satu pihak saja, tetapi hendaknya kita memandang permasalahan secara luas dan mengedepankan kemaslahatan bersama.

Dan kalau kita memandang masalah ini dari sisi lain tentu akan kita temui banyak dampak buruk yang dirasakan oleh pihak lain akibat aktivitas ini, yaitu pihak pemakai jalan terkadang merasa risih dan kurang nyaman ketika berjalan melewati kerumunan orang-orang yang nongkrong di pinggir jalan ini, sehingga terkadang sebagian orang lebih memilih untuk mengurungkan niatnya untuk keluar menunaikan keperluannya daripada dia harus melewati kerumunan manusia itu, atau ia memilih jalan lain yang lebih jauh agar ia tidak melewati kerumunan manusia. Di samping itu, aktivitas ini juga bisa menjadi peluang bagi pelakunya untuk melepaskan pandangannya kepada pemandangan-pemandangan yang terlarang secara syariat.

Dan Alhamdulillah, agama kita adalah agama yang lengkap dan sempurna. Tidak ada satu perkara pun yang mendekatkan kita kepada surga dan menjauhkan kita dari neraka melainkan semuanya telah dijelaskan.

Termasuk masalah duduk-duduk di pinggir jalan ini juga sudah dijelaskan oleh Rasul kita; berkenaan dengan hal ini beliau bersabda:

Waspadalah kalian dari duduk-duduk di pinggir jalan!” Para sahabat menjawab, “Susah bagi kami untuk meninggalkannya, itu adalah tempat kami berbincangbincang.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika memang kalian enggan untuk meninggalkannya maka berikan kepada jalan haknya!” Mereka berkata, “Apa saja hak jalan, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Menundukkan pandangan, mencegah gangguan, menjawab salam, memerintah kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar.”

Berdasarkan hadits di atas maka pada asalnya duduk-duduk di pinggir jalan adalah sesuatu yang terlarang, namun bila seseorang tidak bisa meninggalkan perkara tersebut hendaknya dia menjaga hak-hak jalan yaitu: 1) menundukkan pandangan, 2) mencegah gangguan, 3) menjawab salam, 4) memerintah kepada perkara yang makruf, dan 5) melarang dari perkara yang mungkar.

Berikut ini penjelasan tentang hak-hak tersebut secara terperinci:

 1. Menundukkan pandangan

Seseorang yang duduk di pinggir jalan hendaknya menundukkan pandangannya terhadap setiap orang yang lewat baik dari laki-laki maupun wanita. Laki-laki diperintahkan untuk menundukkan pandangannya terhadap wanita, demikian juga wanita diperintahkan untuk menundukkan pandangannya terhadap laki-laki.

Di dalam al-Qur’an terhadap ayat yang mendukung hal ini, yaitu firman Allah dalam surat anNūr: 30–31 (yang artinya):

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakan pula kepada kaum wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya.”

Bahkan dalam hal ini seorang lelaki hendaknya juga menundukkan pandangannya terhadap laki-laki, demikian juga wanita hendaknya menundukkan pandangannya terhadap wanita, karena alasan diperintahkannya tunduk pandangan di sini bukan hanya menjaga diri dari fitnah pandangan, melainkan juga menjaga kenyamanan pemakai jalan. Dan seseorang pemakai jalan ketika berjalan dengan  membawa sesuatu kemudian melewati kerumunan manusia lantas kerumunan manusia tersebut memperhatikannya, sudah barang tentu dia merasa kurang nyaman dengan hal tersebut.

 2. Mencegah gangguan

Hendaknya seseorang yang duduk di pinggir jalan mencegah gangguan baik gangguan berupa ucapan maupun gangguan berupa perbuatan. Gangguan berupa ucapan misalnya adalah menggosip/menggibahi orang yang lewat di jalan, atau mencemoohnya, atau mengomentarinya dengan komentar-komentar yang membuat tidak nyaman, atau menggodanya, seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum pria ketika mereka duduk di pinggir jalan kemudian ada wanita yang lewat di jalan tersebut ia menggodanya.

Demikian juga sebaliknya, ketika seorang pria berjalan melewati kerumunan wanita di pinggir jalan, terkadang para wanita tersebut tidak ada perasaan malu lagi untuk menggoda pria tersebut. Wallahul musta‘ān; semoga Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin dan muslimat dan menjauhkan mereka dari akhlak tercela.

Adapun gangguan berupa perbuatan adalah seperti: memenuhi jalan, atau menggunakan sebagian besar jalan untuk duduk-duduk sehingga pemakai jalan kurang leluasa dan kurang nyaman berjalan di tempat tersebut.

 3. Menjawab salam

Di antara adab dalam salam adalah seorang yang lewat mengucapkan salam kepada orang yang duduk sebagaimana yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jelaskan dalam sebuah hadits:

Hendaknya yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, jamaah yang sedikit memberi salam kepada jamaah yang banyak.

Ketika demikian ini halnya maka orang yang duduk hendaknya menjawab salam dari yang berjalan dan ini merupakan hak jalan.

4. Memerintah kepada perkara yang makruf

Perkara yang makruf adalah perkara yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Maka orang yang duduk di pinggir jalan hendaknya dia memerintahkan kepada sesuatu yang baik, yang diperintahkan Allah dan RasulNya atau perkara yang dianggap baik oleh umumnya manusia selama tidak menyelisihi syariat.

 5. Melarang dari perkara yang mungkar

Perkara yang mungkar adalah perkara yang diingkari oleh Allah dan RasulNya. Seorang yang duduk di pinggir jalan hendaknya mencegah kemungkaran. Apabila ia melihat seorang perokok, hendaknya menasihatinya agar berupaya meninggalkan rokok. Ketika ia melihat lelaki dan perempuan yang bukan mahram melakukan perbuatan yang tidak senonoh, hendaknya juga menegurnya.

Dan cara mencegah kemungkaran bertingkat-tingkat sesuai kadar keimanan seseorang, terkadang dilakukan dengan tangan, terkadang dengan lisan, dan terkadang dengan pengingkaran hati.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Barang siapa yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya, bila tidak mampu maka dengan lisannya, dan bila tidak mampu juga hendaknya dengan hati, dan itu adalah tingkatan iman yang paling lemah.”

Demikianlah lima hal yang merupakan hak jalan yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang yang enggan untuk meninggalkan aktivitas duduk duduk di pinggir jalan. Di samping lima perkara yang disebutkan di atas, ada adab lain juga yang hendaknya diperhatikan oleh orang-orang yang duduk-duduk dipinggir jalan, yaitu menyingkirkan gangguan yang bisa merintangi jalan manusia.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Keimanan itu memiliki tujuh puluh bagian lebih atau enam puluh bagian lebih; bagian tertinggi adalah kalimat Lā ilāha Illallah dan bagian yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah  bagian dari keimanan.”

 Inilah bukti rahmat Islam

Apa yang kami paparkan di atas sungguh benar-benar menunjukkan betapa indahnya Islam, perhatikanlah bagaimana Islam berupaya untuk mewujudkan maslahat bersama! Islam memperhatikan segala perkara yang kiranya bisa mengganggu kenyamanan seseorang kemudian memerintahkan agar umatnya menjauhi perkara-perkara yang mengganggu tersebut.

Bahkan Islam memerintahkan agar umatnya menyingkirkan duri, batu, paku, dan benda-benda lainnya yang bisa mencelakai manusia. Dari sini, semua orang bisa berpikir, mungkinkah agama yang semulia ini menyuruh umatnya untuk melakukan perusakan, pembunuhan, dan pengeboman yang membabi buta? Tidak, tidak mungkin, sekali-kali tidak. Islam adalah agama rahmat dan agama akhlaq.

Allah berfirman:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS alAnbiyā’: 107)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebagusan akhlaq.”

Para pelaku perusakan, pengeboman, dan pembunuhan liar dan membabi buta sama sekali tidak menjadi cerminan bagi Islam. Mereka hanya mencerminkan kondisi diri mereka sendiri.

Semoga Allah membimbing kita semua untuk menuju Islam yang benar dan lurus agar nantinya kita bisa menggapai rahmatNya.

Āmīn yā Rabbal‘ ālamīn.

Penulis Buletin Dakwah Al Furqon

Hafidz AlMusthofa Abu Najah, Lc.

Related For Adab Duduk-Duduk Dipinggir Jalan