Buletin AL-Furqon

Ma'had Al-furqon al-Islami

Menu

Fikih Kecelakaan

October 16, 2016 | Fikih Muamalah

kecelakaan (Buletin Al Furqon Volume 11 No.2 Tahun Ke-10)

Manusia diciptakan oleh Allah untuk hidup bersosial, tolong menolong satu dengan yang lainnya, maka dengan berkembangnya zaman berkembang pula teknologi. Maka di antara teknologi modern adalah adanya motor, mobil, kereta, kapal maupun pesawat. Yang dahulunya motor atau mobil adalah barang mewah maka sekarang berubah menjadi kebutuhan primer.

Tak luput dari kodrat manusia yang sering lalai, musibah yang tak terduga maka terjadilah beberapa kejadian di jalan darat, laut maupun udara. Mulai dari
kecelakaan beruntun yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban, jatuhnya pesawat yang mewafatkan seluruh penumpangnya, maka Islam sebagai agama
yang mulia memberikan arahan kepada kita semuanya bagaimana menyikapi kecelakaan tersebut.

Berbahagialah menjadi umat Rasulullah Betapa bahagianya menjadi umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Setiap tuntunannya senantiasa menawarkan solusi dan kemudahan. Tidaklah terlewat satu pun kebaikan melainkan beliau ajarkan kepada umatnya dan tidaklah ada satu pun keburukan melainkan beliau mewanti-wanti mereka agar terhindar darinya.

Lihatlah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits:
Dahulu Rasulullah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepadaMu dari campur tangan setan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepadaMu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepadaMu dari meninggal karena tersengat hewan beracun.” (HR an Nasa’i no. 5531, dinilai shahih oleh Syaikh alAlbani)

Faedah Syaikh Utsaimin

Berikut penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin untuk kasus kecelakaan kendaraan: Dari sekian kasus kecelakaan mobil, secara umum pengemudi
dapat dibagi menjadi tiga macam:

Pertama, pengendara yang pandai mengemudi, tahu kewajiban dan aturannya, serta berupaya untuk berjalan di atas aturan. Pengemudi ini layak untuk
mengendarai mobil.

Kedua, pengendara yang tidak pandai mengendarai mobil, tidak tahu kewajiban dan aturannya. Pengemudi semacam ini tidak layak untuk mengendarai
mobil. Jika tetap mengendarai mobil maka termasuk pelanggaran.

Ketiga, pengendara yang pandai mengemudi, tahu kewajiban dan aturannya, namun tidak mau menaati aturannya, bahkan dia berani melanggar dan tidak
peduli dengan bentuk pelanggaran maupun kecelakaan. Orang semacam ini telah melakukan tindak kriminal terhadap dirinya dan orang lain.

Bila terjadi tabrakan
Pertama: Kecelakaan dengan korban penumpang mobil dapat dikelompokkan menjadi empat macam:
1. Kecelakaan terjadi disebabkan pelanggaran pengemudi. Seperti, mengangkut penumpang atau barang yang melebihi standar, atau terlalu mengebut
sehingga tidak terkendali, atau mengerem mendadak tanpa sebab.

2. Kecelakaan terjadi disebabkan keteledoran pengemudi. Bedanya dengan yang pertama, dikategorikan sebagai pelanggaran pengemudi ketika pengemudi
tersebut melakukan tindakan yang dilarang atau melanggar aturan. Sementara dikategorikan sebagai keteledoran, ketika pengemudi meninggalkan kewajiban.
Misalnya: tidak menutup pintu, tidak memperhatikan kondisi ban, dst.

Untuk kecelakaan yang disebabkan oleh dua hal di atas, maka pengemudi wajib membayar kaffarah pembunuhan tidak disengaja, yaitu:
a. Membebaskan budak untuk masing-masing nyawa yang melayang, atau.
b. Puasa dua bulan berturutturut tanpa putus, kecuali karena alasan yang dibenarkan.
c. Di samping itu, dia juga wajib membayar dua hal:
1) Ganti rugi untuk semua kerusakan yang ditimbulkan.
2) Membayar diat pembunuhan tidak disengaja kepada keluarga korban.

Dalil akan hal ini firman Allah Ta‘ālá dalam surat anNisā’ ayat 92, “Dan tidak patut bagi seorang yang berimanmembunuh seorang yang beriman (yang
lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barang siapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah (hendaklah) dia memerdekakan seorang
hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah.
Jika dia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang beriman, maka hendaklah (si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya
yang beriman. Jika dia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh)
membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barang siapa tidak memperolehnya,
maka hendaklah dia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tobat kepada Allah. Dan AllahMahaMengetahui lagiMahabijaksana.”

3. Kecelakaan murni di luar kesengajaan pengemudi. Ia sudah berusaha mencari cara paling selamat, namun kecelakaan tidak bisa dihindarkan. Seperti
ia tertabrak mobil di depannya, atau masuk ke jurang, yang semuanya terjadi setelah berusaha menghindar.

4. Kecelakaan karena lingkungan. Disebabkan jembatan putus, tanah longsor, dst.

Untuk dua kasus kecelakaan di atas, pengemudi tidak wajib membayar kaffarah ataupun ganti rugi. Karena pengemudi hakikatnya adalah pemegang
amanah. Dia berusaha memilihkan kondisi terbaik, Allah menakdirkan terjadi kecelakaan dengan hikmahNya. Karena dia tergolong orang yang berbuat baik kepada orang lain, sehingga dia tidak berhak mendapat hukuman.

Kedua, korbannya dari pihak luar (bukan penumpang). Kecelakaan kondisi ini bisa dibagi dua:
1. Sebabnya berasal dari orang yang ditabrak, sedangkan pengemudi sama sekali tidak mungkin menghindarinya. Seperti halnya seorang mengendarai
mobil dengan kondisi normal, tiba-tiba datang motor yang mengebut dan menyelonong di depannya sehingga tidak mungkin dihindari, atau ada orang
tiba-tiba melompat di depannya. Untuk kasus ini, pengemudi tidak berkewajiban membayar ganti rugi. Karena sebab kecelakaan muncul dari pihak korban.
2. Sebab kecelakaan muncul dari pihak pengemudi. Contoh: menabrak orang yang berjalan di trotoar, atau di wilayah yang bukan jalur mobil, atau mundur
kemudian menabrak orang, dst.
Untuk kasus kedua ini, pengendara wajib membayar kaffarah pembunuhan tidak disengaja, yaitu:
a. Membebaskan budak untuk masing-masing nyawa yang melayang, atau
b. Puasa dua bulan berturut-turut tanpa putus, kecuali karena alasan yang dibenarkan.
c. Di samping itu, pengendara wajib membayar dua hal:
1) Ganti rugi setiap kerusakan yang ditimbulkan
2) Diat pembunuhan tidak disengaja

Korban luka
Adapun korban luka, jika luka yang dialami mengakibatkan hilangnya anggota tubuh atau hilangnya fungsi anggota, syariat Islam juga telah mewajibkan
diat masing-masing secara terperinci. Demikian pula biaya pengobatan mereka dan barang-barang yang rusak akibat kecelakaanmenjadi tanggungan penabrak.

Mati syahid karena kecelakaan lalu lintas?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan beberapa orang yang mati syahid:
“Ada tujuh jenis mati syahid selain perang di jalan Allah; orang yang mati karena tha‘un dia syahid, orang yang mati karena sakit perut dia syahid, orang yang tenggelam mati syahid, dan orang yang mati karena benturan dia mati syahid… (HR Ahmad 24474, anNasa’i 1857, dan  dishahihkan alAlbani)

Dalam Fatwa Lajnah Daimah pernah ditanya semacam ini. Maka dijawab, “Kami berharap dia mati syahid. Karena korban kecelakaan mirip dengan orang
yang mati karena benturan. Dan terdapat riwayat yang shahih dari Nabi bahwa orang yang mati karena benturan telah mati syahid.” (Fatwa Lajnah no. 7946)
Perlu dicatat, bahwa belum tentu mereka mati syahid. Para ulama, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al-Fatāwá alKubrá (3/22),  mengecualikan bagi orang yang bepergian naik kapal dalam kondisi sedang bermaksiat lalu tenggelam, tidak termasuk yang mendapatkan kesyahidan.
Demikian juga pendapat Syaikh Shalih al Munajjid tentang orang yang bepergian untuk melakukan maksiat, seperti orang yang naik kapal untuk berzina
dan minum khamar, dan yang semisalnya lalu tenggelam, maka ia tidak mendapatkan kesyahidan.

Nasihat untuk para pengendara
1. Hendaknya berusaha memahami dan mempraktikkan dengan benar cara mengemudikan kendaraan. Sehingga dia layak disebut ahli mengemudi.
2. Perhatikan betul kondisi kendaraan, terutama yang terkait dengan keselamatan penumpang. Seperti rem, ban, dst.
3. Jangan sampai teledor ketika mengemudikan kendaraan, sehingga bisa mengancam keselamatan orang lain.
4. Jangan membawa barang yang melebihi beban normal kendaraan. Karena ini bisa membahayakan.
5. Patuhi semua aturan lalu lintas, karena itu akan semakin berpeluang menjaga keselamatan.
6. Jangan lupa membaca doa naik kendaraan.
Itulah ulasan singkat mengenai sikap Islam dalam masalah kecelakaan. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semuanya serta memberikan keselamatan
pada keluarga kita. Semoga bermanfaat.

¶ — Rifaq Asyfiya’, Lc.

Related For Fikih Kecelakaan