Buletin AL-Furqon

Ma'had Al-furqon al-Islami

Menu

Syarah Hadits Keutamaan Shalat Berjamaah

October 16, 2016 | Manhaj

shalat (Isi Buletin Al Furqon Tahun ke-11 Vol 6 No 4 | Dzulqadah 1437)

Teks Hadits

Perawi hadits

Beliau adalah Abdullah bin Umar bin al-Khaththab al-Qurasyi, Abu Abdirrahman. Berkata Ibnu Mulaqqin, “Ibnu Umar adalah seorang yang faqih, alim, zuhud, dan seorang yang wara’ (meninggalkan perkara yang haram dan syubhat), salah seorang pembawa bendera perang. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memujinya dan menyifatkannya sebagai orang yang shalih jika dia mengerjakan shalat malam, dan Ibnu Umar tidaklah tidur di malam hari kecuali sebentar saja, dan beliau adalah salah seorang sahabat yang teramat berpegang teguh (ittibā‘) dengan atsar dan sunnah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, beliau meriwayatkan hadits dari Nabi shalallahu alaihi wasallam sebanyak 1.630 hadits. Wafat pada tahun 73 H.”

Faedah-faedah hadits

Di antara faedah hadits yang mulia ini adalah:

1. Pada hadits di atas ditunjukkan keutamaan shalat berjama‘ah, dan sesungguhnya keutamaan shalat berjama‘ah dengan shalat sendirian adalah dua puluh tujuh derajat. Dan yang dimaksud dengan hal tersebut adalah bahwasanya orang yang shalat berjama‘ah akan memperoleh dari shalat berjama‘ahnya seperti pahalanya orang yang shalat sendirian dua puluh tujuh kali.

2. Tidaklah seseorang merasa puas dengan satu derajat saja dari derajat-derajat yang banyak kecuali salah satu dari dua orang: orang yang tidak percaya dengan besarnya nikmat yang dijanjikan bagi orang yang shalat berjama‘ah, atau orang yang bodoh lagi dungu yang tidak mendapatkan petunjuk berjalan di atas jalan yang lurus atau pada perdagangan yang menguntungkan.

3. Yang dimaksud dengan shalat sendirian dalam hadis di atas adalah orang yang shalat sendirian di rumahnya atau pasarnya tanpa udzur syar‘i, adapun
orang yang shalat sendirian dengan udzur syar‘i maka dia telah mendapatkan pahala yang sempurna; hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam (yang artinya), “Apabila seorang hamba sakit, atau dalam keadaan bepergian maka pahalanya ditulis baginya sebagaimana orang yang sehat dan muqim.” (HR al-Bukhari: 2996)

4. Sesungguhnya shalat jama‘ah bukanlah syarat sahnya shalat, namun orang yang shalat sendirian di rumahnya sah shalatnya walaupun dia mendapatkan dosa meninggalkan shalat jama‘ah (bagi laki-laki) jika tidak ada udzur syar‘i tatkala dia meninggalkan shalat berjama‘ah, dan dalil yang menunjukkan akan sahnya shalat sendirian adalah bahwasanya padanya ada pahala dan keutamaan, sesungguhnya perkataan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam afdhalu adalah isim tafdhil yaitu sebuah kalimat yang menunjukkan bahwa dua hal itu sama dalam sifat dan salah satunya memiliki kelebihan dari yang lainnya, dalam hal ini seorang yang shalat sendirian dengan orang yang shalat berjama‘ah sama dalam sifat shalatnya, tetapi orang yang shalat berjama‘ah memiliki kelebihan daripada orang yang shalat sendirian dalam pahala dan derajatnya.

5. Keutamaan amal shalih itu sesuai dengan penunaiannya (pelaksanaannya).
Berkata at-Tiybi, “Dalam hadits Abu Hurairah dikatakan ‘dua puluh lima derajat’, sedangkan dalam hadits Ibnu Umar dua puluh tujuh derajat’; hal ini harus digabungkan bahwasanya yang dua puluh tujuh itu datang lebih akhir dari riwayat yang dua puluh lima derajat, karena Allah menambahkan keutamaan bagi para hamba-Nya, dan tidaklah Allah mengurangi sedikit pun dari apa yang telah dijanjikan, lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira dengannya kepada orang-orang yang beriman, dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam meyakini bahwa Allah telah memberikan karunia kepadanya dan umatnya, kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menganjurkan agar umatnya shalat berjama‘ah.”

6. Bersemangatnya para salaf dalam shalat berjama‘ah. Al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahīh-nya mengisahkan bahwa al-Aswad, julukan dari Ibnu Yazid an-Nakha’i, salah satu ulama senior pada generasi tabi‘in, jika dia tertinggal shalat berjama‘ah di masjid kaumnya maka dia mencari masjid lain untuk shalat berjama‘ah, begitu pula jika Anas pergi ke masjid dan ternyata sudah selesai shalat berjama‘ahnya lalu dia pun adzan dan iqamah dan shalat berjama‘ah. Hal ini dilakukan tidak lain karena keutamaan shalat berjama‘ah, dan tertinggalnya keutamaan hadir ke masjid di awal waktu dan bersegera menunaikan kewajiban shalat dan pergi ke masj id yang lain, yang belum ditunaikan shalat jama‘ah. Dan al-Imam al-Bukhari menunjukkan bahwa keutamaan shalat jama‘ah itu
hanya terbatas pada shalat di masjid bukan orang yang shalat jamaah di rumahnya. Andai shalat jamaah yang mendapatkan keutamaan itu tidak khusus di masjid maka al-Aswad akan shalat di rumahnya dan tidak perlu pindah ke masjid yang lainnya, begitu pula apa yang dilakukan oleh Anas.

7. Penjelasan sebab-sebab terperolehnya dua puluh lima atau dua puluh tujuh derajat. Di antara penjelasan dari para ulama tentang terperolehnya keutamaan shalat berjama‘ah adalah:

Pertama: Menjawab adzan dengan niat menghadiri shalat berjama‘ah;

Kedua: Bersegera menuju ke shalat jama‘ah di awal waktu;

Ketiga: Berjalan ke masjid dengan tenang;

Keempat: Berdoa ketika masuk masjid; Kelima: Melaksanakan shalat Tahiyatulmasjid ketika memasukinya (semua itu dengan niat hendak shalat jama‘ah);

Keenam: Menunggu shalat jama‘ah;

Ketujuh: Malaikat bershalawat kepadanya dan memohonkan ampun baginya;

Kedelapan: Malaikat menyaksikannya;

Kesembilan: Memenuhi panggilan iqamah;

Kesepuluh: Selamat dari gangguan setan ketika setan lari dari iqamah;

Kesebelas: Berdiri dan menunggu takbiratul-ihramnya imam atau mengikuti semua gerakannya yang didapatinya;

Kedua belas: Mendapati takbiratul-ihram imam;

Ketiga belas: Meluruskan shaf dan merapatkannya;

Keempat belas: Menjawab ketika imam mengucapkan Sami‘allāhu liman hamidah;

Kelima belas: Aman dari kelalaian (kebanyakannya) dan mengingatkan imam apabila lupa dengan mengucapkantasbih;

Keenam belas: Terperolehnya kekhusyukan dan terselamatnya dari hal-hal yang melalaikan (kebanyakan);

Ketujuh belas: Bagusnya gerakan dan keadaan;

Kedelapan belas: Malaikat mengayominya;

Kesembilan belas: Melatih membaguskan bacaan dan mempelajari rukun-rukunnya dan bagian-bagiannya;

Kedua puluh: Menampakkan syiar-syiar Islam;

Kedua puluh satu: Membuat marah setan dengan menjalankan ibadah secara berjama‘ah dan tolong-menolong dalam ketaatan dan membuat bersemangat orang-orang yang malas;

Kedua puluh dua: Selamat dari sifat kemunafikan dan berbuat buruk terhadap orang lain;

Kedua puluh tiga: Menjawab salamnya imam;

Kedua puluh empat: Terperolehnya manfaat berkumpul dalam berdoa, berdzikir, dan terperolehnya kesempurnaan keberkahan;

Kedua puluh lima: Berlemah lembut dengan sebelahnya dan saling menjagadi setiap waktu-waktu shalat.

Dua puluh lima hal di atas datang padanya perintah atau anjuran yang mengkhususkannya, dan masih tersisa dua hal yang terkait dengan shalat jahriyyah (bacaan imam keras) yaitu:

Kedua puluh enam: Perhatian dan diam ketika imam membaca; dan

Kedua puluh tujuh: Mengucapkan amin (āmīn) ketika imam mengucapkannya agar bersesuaian dengan aminnya malaikat.

8. Pada hadits ini tidak ada dalil di dalamnya tentang wajib dan tidaknya shalat berjama‘ah, tetapi dalil tentang keutamaan amal dan terperolehnya pahala darinya, baik pada amal-amal yang wajib maupun sunnah. Allah berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS ash-Shaff [61]: 10–11). Maka iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah paling wajibnya ibadah.

9. Para malaikat senantiasa mendoakan orang yang shalat berjama‘ah. Hal ini berdasarkan hadits (yang artinya), “Shalatnya orang yang berjama‘ah
dilipatkan pahalanya terhadap orang yang shalat sendirian di rumahnya atau pasarnya dua puluh tujuh kali lipat, hal itu dikarenakan jika dia berwudhu
dan membaguskan wudhunya, lalu dia keluar menuju masjid dalam rangka menunaikan shalat, tidaklah dia melangkah satu langkah kecuali diangkat satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya, dan apabila dia shalat maka para malaikat senantiasa berdoa baginya (selama dalam masjid), ‘Ya Allah, berkahilah dia dan rahmatilah dia.’ Dan senantiasa orang itu dinilai shalat selama dia menanti shalat berikutnya.” (HR al-Bukhari: 647)

Penutup

Lihatlah wahai kaum muslimin yang semoga Allah senantiasa merahmati kita semua, tentang keutamaan shalat berjama‘ah, masihkah ada di antara kita
yang tidak tertarik dan terpikat pada janji Allah dan Rasul-Nya tentang keutamaan shalat berjama‘ah? Masihkah kita enggan untuk melangkahkan kaki-kaki
kita ke masjid-masjid Allah dalam rangka memenuhi panggilan-Nya? Semoga tulisan yang singkat ini menggerakkan hati kita semua untuk bersemangat
melaksanakan shalat berjama‘ah.
Penulis — Ustadz Abu Rima

(Isi Buletin Al Furqon Tahun ke-11 Vol 6 No 4 | Dzulqadah 1437)

Related For Syarah Hadits Keutamaan Shalat Berjamaah